 Harian Kompas, 23 September 2008,
Jakarta, Kompas.
Memasuki era globalisasi para pengelola rumah sakit dituntut meningkatkan mutu pelayanan medik. Untuk itu, RS di Indonesia khususnya milik pemerintah, sedang dikembangkan agar setara dengan pelayanan RS lain di mancanegara.
Menurut Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari dalam acara pemancangan pertama tiang fondasi pembangunan World Class Hospital Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Cipto Mangunkusumo, Senin (22/9), di Jakarta, tantangan yang dihadapi penyelenggara kesehatan RS di Indonesia saat ini makin berat.
Terkait hal itu mutu pelayanan medik harus ditingkatkan secara maksimal. Hal ini bertujuan memberi kepuasan serta harapan sembuh bagi pasien disertai peningkatan efisiensi dan produktivitas manajemen. “karena itu, Depkes akan mengembangkan RS untuk mewujudkan layanan kesehatan bermutu kelas dunia,” ujarnya.
Sejauh ini sejumlah RS telah didorong untuk mengembangkan RS pemerintah agar memenuhi standar internasional (world class hospital), diantaranya RSUP Cipto Mangunkusumo, RSUP Sanglah, dan RSUP Kariadi. Diperkirakan total biaya pengembangan RSUP Cipto Mangunkusumo di RS kelas dunia mencapai Rp. 430 Miliar.
Pelaksanaan pembangunan RS itu dalam tiga tahap, mulai dari tahun 2008 hingga 2010. Pada tahap pertama, tahun 2008, Depkes mengalokasikan dana Rp. 141 Milyar untuk pembangunan gedung dan Rp. 25 miliar untuk alat kesehatan. Rinciannya antara lain 14 unit poliklinik system cluster, kamar operasi, unit rawat intensif, ruang rawat inap VIP/VVIP, sterilisasi sentral, dan tempat parkir.
Direktur Utama RSUP Cipto Mangunkusumo Prof Akmal Taher menjelaskan, sebagai pusat rujukan nasional, RSCM dituntut dapat melayani beragam kasus sulit dan kompleks. “Sebenarnya inilah salah satu pengertian mendasar rumah sakit kelas dunia, yaitu kemampuan menanggulangi kasus-kasus sulit dengan keberhasilan tinggi,” ujarnya.
Selain itu, pelayanan yang aman, nyaman dan ramah merupakan budaya yang bisa di tawarkan.”Rumah Sakit kelas dunia ini diharapkan bisa mengurangi jumlah orang yang berobat ke luar negeri. Hal ini menuntut perubahan budaya melayani menuju pelayanan lebih baik oleh semua karyawan, baik dokter, perawat, maupun tenaga nonmedik,” katanya.
“Pembangunan gedung yang baik tentu penting. Namun tanpa diikuti perubahan budaya pelayanan, hal itu akan sia-sia. Perubahan budaya melayani juga sedang kami mulai di gedung publik karena semua lapisan masyarakat harus mendapat mutu pelayanan kesehatan sama. Kalau ada perbedaan lebih pada unsur akomodasi,” ujarnya.
Situs Web Resmi Presiden Republik Indonesia - Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono
8 Mei 2008
Rumah Sakit Umum Pusat Nasional (RSUPN) Dr.Cipto Mangunkusumo atau lebih dikenal dengan singkatan RSCM, adalah rumah sakit pertama dan tertua di Indonesia. RSCM berdiri tahun 1919 dan saat ini memiliki status Akreditasi Penuh Tingkat Lanjut.
Presiden SBY pada Kamis (8/5) pagi meresmikan Gedung Rawat Inap Terpadu A (Public Wing) RSCM. Gedung ini merupakan integrasi 9 bagian di RSCM, yaitu Kebidanan dan Kandungan, Bedah, Bedah Saraf, THT, Penyakit Dalam, Anestesi, Mata, Kulit dan Kelamin, dan Geriatri. Bangunan terdiri dari 8 lantai, 169 kamar rawat, dengan total kapasitas 900 tempat tidur. Hal ini menjadikan Public Wing sebagai unit rawat inap terbesar di Indonesia. Pembangunan Public Wing menggunakan APBN tahun 2006 dan 2007 sebesar Rp 109 miliar dan dana PBNP-BLU RSCM sebesar Rp 14 miliar.
RSCM memiliki makna strategis, khususnya bagi pembangunan kesehatan, di Indonesia. Pendirian RSCM dipelopori oleh tokoh pergerakan nasioanal, yang namanya kemudian diabadikan untuk nama rumah sakit tersebut, yakni Dr.Tjipto Mangunkusumo. Ia seorang nasionalis dan memiliki semangat juang yang tinggi dalam memperjuangkan kesehatan bangsanya saat itu.
Pada perkembangannya, RSCM menjadi kepercayaan masyarakat untuk menjadi rumah sakit rujukan nasional. RSCM juga terus meningkatkan kemampuannya dengan mengikuti perkembangan teknologi kedokteran dan bekerjasama dengan organisasi profesi di negara maju. Para dokter ahli RSCM mendapat kesempatan untuk belajar di pusat-pusat pendidikan di luar negeri.
RSCM juga menjadi tempat pendidikan para dokter ahli dari seluruh Indonesia, dan menjadi kiblat perkembangan ilmu kedokteran di Indonesia.
Visi RSCM saat ini adalah menjadi rumah sakit yang mandiri dan terkemuka di Asia Pasifik tahun 2010. RSCM memiliki produk layanan unggulan, antara lain, Klinik Pemulihan Trauma, Pusat Perinatologi, Departemen Anestesi, Bedah Laser, Klinik Terpadu, Hidroterapi, dan Pelayanan Terpadu Rehabilitasi Anak. Kemudian Departemen Urologi, Departemen Radioterapi, UGD, Pelayanan Jantung Terpadu, Departemen Psikiatri, dan Departemen Ilmu Penyakit Dalam.
RSCM saat ini dipimpin oleh Direktur Utama Prof.DR.Dr.Akmal Taher, SpU(K). RSCM memiliki kapasitas 1500 tempat tidur yang terbagi dalam Unit Rawat Jalan dan Rawat Inap. Sekitar 70 persennya merupakan pasien dari golongan menengah ke bawah, baik yang termasuk dalam cakupan Askeskin, Jaminan Gakin DKI, maupun dengan menggunakan SKTM. (nnf)
Disadur dari.
http://www.presidensby.info/index.php/kibar/2008/05/08/39.html
Disadur dari Halo Cipto Vol.10, no:2, September 2007
Wawancara Dr. Sonar Soni Panigoro, Sp. B-Onk, M. Epid,
Direktur Umum dan Operasional RSCM
|